Saling memanusiakan
Sipakatau
Memperlakukan orang sebagai orang. Terdengar sederhana sampai kamu sedang marah.
Bagian satu
Kalimat itu tidak berhenti pada “orang merdeka”. Lanjutannya menyebut kepada siapa kemerdekaan itu tunduk.
Yang biasa dikutip cuma potongan depannya. Lanjutannya justru yang menentukan: orang Wajo merdeka sejak lahir, dan yang mereka layani adalah ade’ — aturan — bukan seseorang.
Bedanya besar. Setia kepada orang berarti kesetiaan itu ikut berganti begitu orangnya berganti. Setia kepada aturan berarti orangnya yang boleh diganti, aturannya tetap.
Kepala Wajo disebut Arung Matoa. Ia tidak mewarisi kursinya — ia dipilih. Dan yang lebih jarang terdengar: ia bisa diberhentikan kalau dianggap melanggar aturan yang ia sendiri janjikan untuk dijaga.
Jabatan di sana lebih mirip perjanjian daripada takhta. Itu sebabnya kalimat tadi bukan sekadar semboyan yang enak dibaca — ada cara memerintah yang mengikutinya.
Aturan tertulis mengurus siapa memerintah. Tiga kata ini mengurus bagaimana orang memperlakukan satu sama lain — dan masih terdengar di percakapan biasa.
Saling memanusiakan
Memperlakukan orang sebagai orang. Terdengar sederhana sampai kamu sedang marah.
Saling memuliakan
Menyebut nama orang atas pekerjaannya, dan tidak merendahkan yang sedang tidak hadir.
Saling mengingatkan
Yang paling sulit dari ketiganya. Dua yang pertama menyenangkan; yang ini menuntutmu mengatakan hal tak enak kepada orang yang kamu hormati — dan menerima yang sama.